December 1, 2022
Wall Street Libur, 'Naga-Naganya' IHSG Gimana?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar keuangan Indonesia kemarin mampu mencatatkan kinerja yang menggembirakan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di zona hijau, rupiah pun menguat, dan SBN kembali dibeli. Bisakah pasar keuangan melanjutkan kinerja luar biasa mereka selama akhir pekan?

Pada perdagangan Kamis (24/11/2022), IHSG berakhir di zona hijau dengan kenaikan 0,37% atau 26,39 poin, menjadi 7.080,52. Sejak perdagangan dibuka, indeks terpantau naik dan terus menguat secara konsisten hingga penutupan perdagangan.

Bahkan, Indeks Tanah Air mendapat katalis positif dari pasar saham Amerika Serikat (AS) yang ditutup dengan putus asa.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dow Jones Industrial Average naik 95,96 poin atau 0,28% menjadi 34.195,11. S&P 500 naik 0,59% menjadi ditutup pada 4.027,28 dan Nasdaq Composite bertambah 0,99% menjadi 11.285,32.

Menghijaunya IHSG tak lepas dari risalah The Fed yang membawa angin segar bagi para pelaku pasar. The Fed telah mengisyaratkan akan menurunkan tingkat kenaikan suku bunga untuk bulan Desember.


Nilai transaksi IHSG kemarin cukup ramai mencapai Rp 10,7 triliun dan melibatkan 40,44 miliar saham serta berpindah tangan sebanyak 1,16 juta kali. Investor asing juga tercatat melakukan net beli sebesar Rp381,77 miliar di pasar reguler.

Sementara itu, mayoritas saham masih mengalami penurunan. Statistik perdagangan menunjukkan ada 270 saham yang turun dan 253 saham naik, dan sisanya 179 saham tidak berubah.

Sedangkan sektor yang menopang penguatan IHSG dipimpin oleh saham-saham real estate, diikuti oleh kesehatan, keuangan, industri, bahan baku, dan saham primer nonkonsumen.


Kemarin, saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) memiliki nilai transaksi terbesar yakni mencapai Rp 795,2 miliar. Sementara itu, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul di posisi kedua dengan nilai transaksi Rp549,5 miliar dan saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) di posisi ketiga dengan nilai transaksi Rp471,4 miliar.

Selanjutnya, mata uang Garuda berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (24/11). Dengan begitu, rupiah menguat selama tiga hari berturut-turut.

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan rupiah menguat 0,35% menjadi Rp15.630/US$. Kemudian, rupiah memangkas penguatannya menjadi 0,29% menjadi Rp15.640/US$ pada tengah hari.


Penguatan rupiah terjadi karena indeks dolar AS melemah di pasar spot. Indeks dolar AS terpantau melemah sebesar 0,24% menjadi 105,83 sehingga membuka peluang penguatan mata uang Indonesia.

Terakhir, harga obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) yang dicover cenderung berubah pada perdagangan Kamis (24/11/2022). Sentimen investor di pasar SBN saat ini cenderung mixed, dengan tenor 5, 15, dan 20 tahun masih diburu investor, ditandai dengan penurunan yield.

Sementara itu, investor cenderung menjual SBN tenor 10 dan 30 tahun ditandai dengan kenaikan yield.

Menurut data Refinitiv, SBN tenor 5 tahun turun signifikan sebesar 10,7 basis poin (bp) menjadi 6,452%.

Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun yang menjadi acuan SBN naik 3,8 basis poin menjadi 6,984%.

Yield berlawanan arah dengan harga, sehingga penurunan yield menandakan harga obligasi sedang menguat, begitu pula sebaliknya. Satuan titik dasar perhitungan sama dengan 1/100 dari 1%.