liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Terkuak, Motif Agama di Balik Perang Rusia dan Ukraina

Jakarta, CNBC Indonesia – Sudah hampir setahun sejak Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin mengklaim bahwa serangan itu berasal dari keprihatinan terbesar Rusia atas ancaman yang ditimbulkan oleh politisi Barat, khususnya NATO, yang memindahkan pasukannya ke perbatasan Rusia-Ukraina.

Karena tidak mau diserang, Rusia mengambil langkah pertama yaitu menyerang Ukraina sebelum menjadi pangkalan militer NATO yang membahayakan kedaulatan Rusia. Namun, permasalahan kedua negara tidak hanya berkisar pada NATO, tetapi juga melibatkan aspek budaya dan sejarah.

Tujuh bulan sebelum melancarkan serangan, Putin menulis esai panjang berjudul “On the Historical Unity of Russia and Ukraine”. Esai tersebut dimulai dengan pernyataannya bahwa orang Rusia, Belarusia, dan Ukraina terikat oleh kesamaan dalam agama, bahasa, dan tradisi budaya. Fakta ini tidak dapat disangkal.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Jika melihat sejarah, kesamaannya dapat ditelusuri kembali ke tahun 988. Saat itu, terjadi penyebaran agama Kristen dari Kyiv ke seluruh tanah air Rusia.

Ini karena penguasa Kyiv, Vladimir the Great atau Vladimir I, resmi menjadi seorang Kristen. Dia kemudian menjadi aktor penting di balik Kristenisasi semua orang Rusia, yang kemudian menjadi cikal bakal Gereja Ortodoks Rusia.

Dari sini agama Kristen menyebar dan lambat laun menyatu dengan tanah air Rusia. Sehingga tercipta rasa nasionalisme dan spiritualitas yang sangat kuat di antara mereka.

Dilansir AFP, atas dasar inilah Kyiv memiliki posisi penting bagi dunia keagamaan Rusia. Sejak saat itu, hubungan keduanya terjalin selama berabad-abad.

Kyiv telah menjadi bagian dari Kekristenan Ortodoks Rusia. Namun, ketika konsep ‘negara bangsa’ terbentuk, hubungan keduanya tidak lagi sama, apalagi ketika Uni Soviet dibubarkan pada tahun 1991.

Setelah jatuhnya negara komunis, Kyiv menjadi ibu kota Ukraina. Pada saat yang sama, mereka juga menulis sejarah versi mereka sendiri, yang menurut Putin dalam esainya, telah memojokkan Rusia atau Uni Soviet dengan menganggap episode sejarah bersamanya sebagai pendudukan.

Munculnya berbagai sentimen dari elit baik negara maupun pihak luar kemudian mendorong munculnya persaingan yang tak terelakkan yang tidak bisa dipertahankan oleh perasaan spiritual semata. Puncaknya terjadi pada 2019.

Mengutip Giles Fraser di LSE, pada tahun itu Gereja Ortodoks Ukraina, yang telah lama mencari otonomi, mendeklarasikan kemerdekaannya dari Gereja Ortodoks Rusia, dan berhenti bersekutu dengan anggota keluarga Ortodoks lainnya. Menanggapi hal ini, Gereja Ortodoks Rusia sangat marah dan menolak klaim kemerdekaan ini.

Mengutip artikel “Perang Rusia di Ukraina: Dimensi Religius”, di sinilah perpecahan bersejarah dalam keluarga Ortodoks memanifestasikan dirinya lebih dari sekadar masalah spiritual. Ukraina dianggap telah “menghina” tradisi keagamaan Rusia dan melupakan Rusia di masa lalu Ukraina.

Akibatnya, emosi Putin melonjak hingga ia menulis esai 5.000 kata. Namun, esai itu sendiri sangat tidak logis karena jelas menunjukkan keinginan Rusia untuk merebut kedaulatan negara lain berdasarkan konsep kewarganegaraan yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu.

Masalah agama ini kemudian larut dalam invasi Rusia ke Ukraina. Serangan ke Ukraina tidak hanya dilihat sebagai motif ideologis, tetapi untuk memurnikan nilai-nilai agama.

Bahkan baru-baru ini Gereja Ortodoks Rusia menyebut Putin sebagai “Pengusir Setan”. Ini mengikuti keberhasilannya dalam menghilangkan Ukraina yang telah memaksa rakyatnya untuk meninggalkan nilai-nilai ortodoks dan agama tradisional Rusia.

[Gambas:Video CNBC]

(mfa/sef)