December 1, 2022
Profesor Harvard Bicara Potensi 'Harta Karun' EBT RI, Simak!

Jakarta, CNBC Indonesia – Saat ini dunia bergerak menuju dekarbonisasi. Profesor Ricardo Hausmann dari Lab Pertumbuhan Harvard mengatakan dekarbonisasi akan menyebabkan Indonesia mengalami gangguan dari penurunan permintaan batubara global, tetapi kabar baiknya adalah Indonesia memiliki potensi besar dalam energi terbarukan.

Hal itu disampaikan Ricardo Housmann dalam Indonesia Development Forum 2022: Knowledge and Getting Started Session, Senin (21/11/2022). Menurutnya, potensi energi alam di Indonesia cukup menjanjikan di masa depan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Yang menarik, Indonesia memiliki potensi solar yang besar, namun masih kurang dimanfaatkan, hanya 0,5% potensinya, sumber daya air hanya 6%, dan angin kurang dari 0,5%,” ujar Ricardo.

Berdasarkan data, Indonesia memiliki potensi energi matahari lebih dari 200 Gigawatt (GW), air lebih dari 70 GW, dan angin 60 GW. Selain itu, ia juga mendorong Indonesia untuk memanfaatkan potensi nikel yang akan menjadi sumber baterai listrik dalam proses dekarbonisasi ke depan.

“Untungnya, Indonesia adalah produsen nikel terbesar di dunia. Diharapkan dalam 12 tahun ke depan, jika dunia mengalami dekarbonisasi, produksi nikel secara global meningkat 200%,” katanya.

Hal itu dibenarkan oleh mantan Menteri Keuangan periode 2014-2016 Bambang PS Brodjonegoro yang mengatakan bahwa Indonesia dapat memanfaatkan periode dekarbonisasi ini untuk mendapatkan keuntungan besar dari sumber daya nikelnya.

“Jadi solusinya, sementara kita salah satu pemilik cadangan nikel terbesar adalah membuat baterai, karena baterai harus menjadi bagian dari sistem kelistrikan yang bergantung pada energi terbarukan, variabel utamanya adalah angin, air, matahari,” ujarnya. dikatakan.

Namun, dia berpesan agar upaya memanfaatkan transisi energi saat ini juga harus didorong dengan pembangunan jaringan transmisi yang merata. “Sekarang harus, karena dengan sistem energi terbarukan ada baterai, konektivitas harus dibangun dengan jaringan yang lengkap,” katanya.

Menurutnya, jaringan transmisi yang tidak merata juga menyebabkan pasokan listrik tidak merata ke pengguna akhir, meski seringkali ketersediaannya melebihi pasokan.

“Kalau saat ini PLN mengeluhkan oversupply bukan hanya pembangkit yang terlalu banyak tapi juga transmisi yang kurang memadai sehingga listrik yang dihasilkan pembangkit tidak bisa langsung terkirim ke end user, saya kira Indonesia harus banyak berinvestasi di jaringan nasional, jika tidak, kami hanya memenuhi unsur keberlanjutan dan tidak memenuhi unsur keandalan. apalagi kemampuannya jika tidak dilengkapi dengan jaringan nasional yang lengkap,” ujarnya.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Menunggu Perpres Tarif Listrik EBT, Menteri Erick Belum Teken!

(cha/cha)