liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Pernah Masuk Forbes, CEO Startup Ini Diduga Penipu Ulung

Jakarta, CNBC Indonesia – Namanya Charlie Javice. Dia adalah CEO dari startup fintech bernama Frank yang mendapat suntikan pendanaan dari JP Morgan. Perusahaan fintech yang didirikan oleh Javice bertujuan untuk mempercepat dan menyederhanakan proses pengajuan pinjaman mahasiswa di Amerika Serikat.

Berkat ‘kesuksesan’ perusahaannya, nama Charlie Javice pernah masuk dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30. Namun, belakangan diketahui bahwa dia kemungkinan besar adalah seorang penipu.

JP Morgan Chase lantas menggugat Javice karena ‘merampok’ dana akuisisi dari investor senilai lebih dari Rp 2 triliun!

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Mengutip Forbes, investor utama Frank adalah Crunchbase. Perusahaan juga mendapat suntikan dana dari miliarder Marc Rowan dan pendukung ventura terkemuka termasuk Aleph, Chegg, Reach Capital, Gingerbread Capital, dan SWAT Equity Partners.

Namun, ternyata suntikan dana tersebut disalahgunakan oleh pendirinya, Javice.

Wanita berusia 30 tahun itu dituduh membuat daftar pelanggan palsu untuk 4,2 juta mahasiswa yang sebenarnya fiktif. Faktanya, menurut gugatan yang diajukan akhir tahun lalu di Pengadilan Distrik AS di Delaware, Frank memiliki kurang dari 300.000 pelanggan saat itu.

Setelah membuat pengguna palsu, Javice kemudian menyerahkan daftar tersebut ke JP Morgan untuk pendanaan sebesar US$175 juta atau lebih dari Rp2,6 triliun!

“Javice awalnya menolak permintaan JPMC, dengan alasan tidak bisa membagikan daftar kliennya karena masalah privasi,” tulis pengaduan JPMorgan Chase, seperti dilansir Forbes, dikutip Minggu (15/1/2023).

Sementara itu, di minggu yang sama, JP Morgan mengajukan gugatan terhadap Javice, namun Javice justru mengajukan gugatan balik terhadap JP Morgan. Ini dilakukan untuk menyangkal jutaan kompensasi yang harus dia bayar.

Chief Growth Officer Frank, Olivier Amar juga digugat oleh JP Morgan. Dia dituduh bersama Javice meminta insinyur top di Frank untuk membuat daftar pelanggan palsu.

Javice lulus dari Wharton di University of Pennsylvania dan masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 di bidang keuangan pada tahun 2019. Dia mengklaim kepada Forbes bahwa Frank telah membantu 300.000 siswa mengajukan bantuan keuangan untuk pendidikan.

Selain itu, meluncurkan Insider, Javice mengklaim bahwa dia adalah seorang pengusaha yang membuat rekor.

“Saya membangun bisnis dan mengumpulkan dana dari kuliah, menolak pekerjaan keuangan, meskipun saya diberitahu saya akan gagal karena saya tidak memiliki pengalaman bisnis,” katanya kepada Insider pada tahun 2021, dikutip Minggu (15/1/2023).

[Gambas:Video CNBC]

(hsy/hsy)