liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Menkominfo Minta Startup Lakukan Efisiensi Bukan PHK

Jakarta

Charlie Javice membuat nama untuk dirinya sendiri meskipun usianya masih muda, tetapi dia dituduh melakukan penipuan besar-besaran. Dia meluncurkan perusahaann awal yang bernama Frank pada tahun 2017 ketika dia berusia 24 tahun.

Startup ini bertujuan untuk membantu siswa mengajukan permohonan bantuan keuangan perguruan tinggi. Pada 2021, startup yang mendapat pujian itu dijual ke JPMorgan Chase seharga USD 175 juta atau sekitar Rp 2,6 triliun.

Kini, dikutip detikINET dari CBS, JPMorgan mengklaim cerita Frank membantu lebih dari 5 juta mahasiswa masuk kampus, kebanyakan teknik. Menurut gugatan tersebut, Javice membayar profesor ilmu data $18.000 untuk membuat daftar 4 juta nama siswa palsu guna meyakinkan raksasa keuangan tersebut.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Tuduhan tersebut adalah yang terbaru yang dilayangkan terhadap pendiri perusahaan milenial yang awalnya sangat dipuji namun kemudian dituduh melakukan penipuan. Kasus lain termasuk Sam Bankman-Fried, pendiri FTX, yang baru-baru ini bangkrut, hingga pendiri Theranos, Elizabeth Holmes, yang telah dipenjara.

Alex Spiro, pengacara Javice, membantah tuduhan tersebut. “JPMorgan tahu gugatan itu menyesatkan. Mereka diberi semua data sebelumnya untuk pembelian Frank dan Charlie Javice menyoroti pembatasan yang diberlakukan oleh undang-undang privasi siswa,” katanya.

“Ketika JPMorgan tidak dapat mengatasi undang-undang privasi tersebut setelah pembelian Frank, mereka mulai memutarbalikkan fakta dan menuduh Charlie Javice mengubah kesepakatan,” tambahnya.

JPMorgan mengatakan Javice tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut, mereka mencari kompensasi yang tidak ditentukan dalam gugatan tersebut.

Awalnya, JP Morgan meminta bukti kepada Javice bahwa dia memiliki lebih dari 4 juta pelanggan. Javice awalnya menolak, mengklaim bahwa dia tidak dapat membagikan nama tersebut karena masalah privasi. Namun menurut JP Morgan, Frank sebenarnya memiliki kurang dari 300.000 rekening pelanggan.

“Akhirnya, profesor ilmu data membuat daftar 4,265 juta akun pelanggan palsu seperti yang diminta oleh Javice,” klaim JPMorgan dalam gugatan tersebut.

Tidak menyadari masalahnya, JPMorgan menyelesaikan pembelian senilai $175 juta, tetapi kemudian menyadari ada yang tidak beres. Sekarang tentu saja mereka ingin Javice bertanggung jawab atas masalah ini.

Tonton Video “Di Balik Badai Shutdown Startup”.
[Gambas:Video 20detik]

(fyk/fyk)