liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Negara-Negara Tempat Pelecehan Gambar Nabi Muhammad Terjadi

Jakarta, CNBC Indonesia – Seorang Profesor dari Universitas Hamline bernama Erika Lopez Prater harus menghadapi tuntutan hukum dari mahasiswanya karena menghasut Islamofobia. Prater sengaja menunjukkan lukisan yang menggambarkan Nabi Muhammad.

Menurut presiden Himpunan Mahasiswa Islam Hamline yang dikutip Al Jazeera, aksi ini sangat melukai hati umat Islam. Sebab, bagi umat Islam, penggambaran Nabi Muhammad secara visual sangat dilarang dan dianggap melanggar akidah.

Kejadian ini menambah catatan panjang propaganda Islamofobia yang beberapa kali terjadi di negara lain. Pada dasarnya mereka melakukan ini atas nama kebebasan berpendapat yang terkadang melanggar kaidah-kaidah suatu keyakinan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Berikut adalah beberapa kasus.

Prancis: Kasus Charlie Hebdo

Kisah paling terkenal dari Prancis berasal dari surat kabar Charlie Hebdo. Sejak berdiri pada tahun 1992, surat kabar ini konsisten memproduksi konten-konten satir dengan berbagai topik, mulai dari politik, ekonomi, agama, termasuk merujuk pada agama tertentu, khususnya Islam.

Dilansir Deutsche Welle, konten yang selalu diusung Charlie Hebdo adalah penerbitan karikatur Nabi Muhammad. Penulis berpendapat bahwa mereka ingin mengangkat isu intoleransi dan represi terhadap ekstremis Islam yang mengancam demokrasi. Semua yang dia lakukan adalah atas nama iklim kebebasan berbicara Prancis, bahkan jika itu melampaui batas kepercayaan yang masuk akal.

Akhirnya, aksi ini harus dibayar mahal. Akibatnya memicu serangan kekerasan dan pembunuhan. Yang paling tragis terjadi pada tahun 2015 ketika terjadi penembakan terhadap orang-orang yang bekerja di Charlie Hebdo. Ada 12 korban jiwa dalam insiden ini.

Dilansir Euronews, yang terbaru di tahun 2020 adalah pemenggalan kepala seorang guru sekolah bernama Samuel Paty. Paty dipenggal oleh seorang remaja Muslim setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo untuk menjelaskan kebebasan berbicara.

Namun, rangkaian peristiwa berdarah itulah yang justru membuat Charlie Hebdo bersimpati. Setelah diserang pada tahun 2015, koran tersebut telah terjual 8 juta eksemplar di seluruh dunia.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pun bereaksi terhadap sikap tersebut. Alih-alih mengkritik Charlie Hebdo, ia justru mengutuk radikalisme dan separatisme Islam untuk menciptakan kesetaraan di Prancis.

“(Paty) dibunuh karena Islamis menginginkan masa depan kita… Mereka tahu bahwa dengan pahlawan dalam diam seperti [Paty]mereka tidak bisa memilikinya,” kata Macron di Paris, 21 Oktober 2020, seperti dilansir Reuters.

Belanda: Politisi Rasis Geert Wilders

Dari Negeri Kincir Angin ada politikus Partij Voor de Vrijheid (PVV), Geert Wilders. Pria kelahiran Sukabumi ini diketahui punya catatan rasis. Dia anti-imigran dan anti-Islam. Dalam laporan Koen Damhuis di Brookings, Wilders menganggap Islam sebagai ancaman.

“(Islamisasi) adalah ancaman eksistensial terhadap identitas kita, kebebasan kita,” kata Wilders.

Pada tahun 2011, dikutip oleh AlJazerra, Wilders menyamakan Islam dengan Nazi dan meminta orang-orang untuk melarang Alquran. Serangan Wilders terhadap Islam didasarkan pada motif politik.

Dengan cara ini, PVV dan Wilders sendiri memantapkan diri dan menjadi terkenal. Kasus Charlie Hebdo misalnya, ia gunakan sebagai “bahan bakar” untuk mengobarkan api kontroversi di Belanda bahwa imigran Muslim adalah penyebab masalah dan tidak bisa hidup bermasyarakat.

Masih mengutip laman yang sama, baru-baru ini ia kembali beraksi dengan menyerukan kegiatan Ramadhan melalui akun Twitter pribadinya. “Hentikan Islam. Hentikan #Ramadhan. Kebebasan. Tidak ada Islam,” katanya di akun Twitternya pada 12 April 2021.

India: Kasus Nupur Sharma

Nupur Sharma adalah politisi dan juru bicara Partai Bharatiya Janata (BJP), salah satu partai nasionalis yang berkuasa di India. Dilansir BBC, komentar Sharma tentang Nabi Muhammad itu dilontarkan dalam debat kasus Masjid Gyanvapi.

Berasal dari sayap kanan, Sharma menghasut umat Islam dan Nabi Muhammad selama debat di TV. Persoalannya saat itu posisinya sebagai juru bicara partai membuat masyarakat marah. Hal ini karena banyak orang memandang hasutan termasuk pandangan partai daripada pandangan pribadi.

Dalam publikasi Aljazeera, hasutan ini mendorong hampir 20 negara memanggil duta besar India untuk meminta penjelasan. Demonstrasi massal juga dilakukan di dalam dan luar negeri.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

mengerikan! AS & India ‘Tembak’ ke China

(mfa/sef)