liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Nano Riantiarno yang Tak Pernah Kenal 'Titik'


Jakarta

Nano Riantiarno berhasil menorehkan sejarah panjang di kancah Indonesia. Tak hanya dikenal sebagai aktor yang serba bisa, tapi juga penulis skenario dan sutradara.

Pada 1 Maret 1977, Nano Riantiarno mendirikan Teater Koma bersama beberapa dramawan dan aktor teater Indonesia, salah satunya Jajang C Noer. Sepanjang karirnya di Teater Koma, Nano tak pernah lelah berkreasi.

Setiap tahunnya, Teater Koma kerap tampil dua kali di awal dan akhir tahun. Menurut tradisi, pentas pertama digelar di Graha Bhakti Budaya dan pentas kedua di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Pasar Baru.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Drama yang dipentaskan sarat dengan kritik sosial masyarakat kelas bawah. Nano tak pernah lelah menjawab berbagai persoalan bangsa melalui teks-teks yang ditulisnya, bahkan kerap disimbolkan dalam karakter film.

Dalam sebuah wawancara, Nano Riantiarno mengatakan selama masih ada korupsi di Indonesia, ia akan berdiri tegak dan menyuarakan aspirasi rakyat. “Ya, seperti namanya, Teater Koma tidak pernah memiliki kata ‘titik’,” ujar Nano riang saat diwawancarai detik.com, beberapa waktu lalu.

Suasana di Kamar Jenazah Nano Riantiarno Foto: Ahsan Nurrijal/detikHOT

Menurut pengakuan Nano, biaya penerbitan untuk menggelar pementasan teater di Indonesia cukup berat dan membuatnya berpikir. Selama beberapa tahun terakhir, Teater Koma mengikuti perkembangan zaman dengan bantuan multimedia.

“Setidaknya dengan bantuan multimedia kita beruntung bisa lebih dekat dengan generasi muda,” ujarnya.

Tak mau ketinggalan, Teater Koma pun menayangkan berbagai produksinya secara virtual. Melalui akun YouTube Teater Koma dan Kaya Indonesia sebagai sponsor, produksi digital yang bagus ini disiarkan ulang.

“Itu salah satu cara kami, ruang penyimpanan dokumentasi Teater Koma di Studio juga terjaga dengan baik,” ujarnya.

Di penghujung hayatnya, Rangga Bhuana, putra sulung Nano dan Ratna Riantiarno, mengaku ayahnya khawatir dengan masa depan teater yang didirikannya. “Papa masih khawatir dengan Teater Koma ke depannya,” kata Rangga Bhuana saat ditemui di rumah almarhumah, Jumat (20/1/2023).

Menurut keterangan Rangga, akhir tahun lalu ayahnya menjuarai Lomba Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta bertajuk ‘Matahari dari Papua’. Naskah tersebut juga merupakan peninggalan terakhir mendiang Nano Riantiarno.

“Sebenarnya, dia berencana untuk mementaskan itu,” katanya.

“Mungkin kita akan lihat bagaimana kelanjutannya dari Coma Theater ke depan,” kata Rangga.

Tonton video “Berita Duka, Pendiri Teater Koma Meninggal”
[Gambas:Video 20detik]
(tia/wes)