liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
February 3, 2023
Nano Riantiarno yang Tak Pernah Kenal 'Titik'


Jakarta

Kabar duka hari ini, Jumat (20/1/2023), datang dari maestro teater Indonesia, Nano Riantiarno. Dia meninggal setelah berjuang melawan kanker dan tumor. Perjuangan dan dedikasinya dalam dunia seni teater, khususnya dalam mendirikan Teater Koma, menjadi salah satu yang paling dikenang oleh para seniman Indonesia. Pada 1 Maret 2023, Teater Koma genap berusia 46 tahun. Namun sayang, Nano Riantiarno tidak hadir secara fisik dalam selebrasi nanti.

Sosok Nano Riantiarno dikenang sebagai panutan. Demikian diungkapkan aktor Mathias Muchus yang turut merasakan kesedihan mendalam. Mendengar kabar meninggalnya Nano Riantiarno, Mathias Muchus langsung tancap gas dan memacu motornya menuju rumah almarhumah.

“Saya baru dengar kabar dari istri saya, dia keluar pagi-pagi, teman kami Nano Riantiarno sudah meninggalkan kami. Saya kaget, saya heran, cepat datang ke sini naik motor, ketemu dia di sini,” kata Mathias Muchus. saat ditemui di Koma Theater Studio, kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, Jumat (20/1/2023).

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Takjub diantara kata-kata yang keluar dari Mathias Muchus saat mengingat Nano Riantiarno. Konsistensinya di bidang seni, khususnya teater, patut ditiru.

Bagaimana Nano Riantiarno menampilkan realitas kehidupan dan kondisi sosial masyarakat Indonesia di atas panggung teater sangat berkesan dan mengharukan. Menurut Mathias Muchus, karya-karyanya yang juga menarik perhatian adalah ciri-ciri figur perbaikan.

“Sosok Nano di mata saya adalah seseorang yang patut diteladani, seseorang yang konsisten, seseorang yang selalu menjawab semua masalah dengan karyanya, itu yang membuat saya mengaguminya. Sosok ini sudah memiliki arti tersendiri bagi saya, karyanya .intrik dan dekat dengan kita. Tidak memberikan banyak mimpi dalam bekerja, tetapi lebih menggali tentang realita kehidupan dan kondisi sosial,” kata Mathias Muchus.

“Itu terus berlanjut setiap tahun hingga saat ini sudah puluhan karya yang diterbitkan, dan itu kekaguman saya kepada Mas Nano,” lanjutnya.

Bagi artis Sujiwo Tejo, Nano Riantiarno adalah penceramah kritik sosial yang lantang. Ia bahkan menyebut Nano Riantiarno sebagai Iwan Fals teater.

Suasana di Kamar Jenazah Nano Riantiarno Foto: Ahsan Nurrijal/detikHOT

Sujiwo Tejo mengenang bagaimana Nano Riantiarno mengkritik pemerintah di era Soeharto. Dulu, kebebasan berbicara masih tabu dan tidak sebebas sekarang.

“Kalau ikut Iwan Fals sekarang, biasa saja, lagu-lagu yang mengkritik wakil rakyat pasti populer, kelihatannya biasa saja, tapi waktu Pak Harto luar biasa berani,” jelas Sujiwo Tejo.

“Jadi Nano melakukan itu, subseksi, lalu Opera Lipas, itu melawan rezim Pak Harto. Kita lihat itu, bukan sekarang, sekarang dibuka,” jelasnya.

Dengan meninggalnya Nano Riantiarno, menurutnya Indonesia kehilangan seorang idealis pemberani.

“Ya, kehilangan sosok pemberani, yang bukan seni demi seni, dalam istilah saya, tapi seni untuk tujuan sosial. Seni demi seni adalah drama cinta. Dia mengungkapkannya di atas panggung. Sosok itu hilang, “pungkasnya.

Nano Riantiarno meninggal dunia di usia 73 tahun. Beberapa bulan terakhir, ia dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.

Nano Riantiarno akan dimakamkan pada Sabtu, 21 Januari 2023 pukul 12.00 WIB di Pemakaman Giri Tama, Tonjong, Bogor. Kini jenazahnya dimakamkan di rumah duka Studio Teater Koma di Bintaro, Jakarta Selatan.

(aay / ingin)