liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 26, 2023
Misteri Mata Sahara yang 'Menatap' Luar Angkasa

Jakarta

Jika dilihat dari atas, Sahara Eye atau Mata Sahara terlihat seperti mata yang seolah menatap ke angkasa. The Eye of the Sahara sebenarnya adalah kawah tubrukan besar di tengah Gurun Sahara di Mauritania, di bagian barat laut benua Afrika.

The Eye of the Sahara adalah struktur geologi berbentuk lingkaran dengan diameter 50 kilometer. Formasi geologi kuno yang menakjubkan ini digunakan pada tahun 1960-an oleh para astronot Gemini sebagai tengara.

Ahli geologi awalnya percaya Mata Sahara, juga dikenal sebagai Struktur Richat, menjadi kawah tumbukan besar. Namun, penelitian lebih lanjut terhadap batuan sedimen yang membentuk kubah pusat, menetapkan bahwa struktur tersebut terbentuk pada akhir zaman Proterozoikum, antara 1 miliar hingga 542 juta tahun yang lalu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dikutip dari IFL Science, sebagian orang masih percaya bahwa bangunan tersebut sebenarnya adalah sisa-sisa kota Atlantis yang hilang, karena bentuknya yang bulat menyerupai daratan yang digambarkan oleh Plato. Namun, tidak ada temuan lebih lanjut untuk mendukung keyakinan ini.

Struktur tersebut kemungkinan besar sebenarnya terbentuk melalui proses yang disebut “pelipatan”, menciptakan apa yang disebut antiklin simetris. Lipatan terjadi ketika gaya tektonik yang bekerja dari kedua sisi memampatkan batuan sedimen. Jika batunya dingin dan rapuh, bisa pecah. Tetapi jika cukup panas, itu akan melipat. Lipatan ke atas disebut antiklin, sedangkan lipatan ke bawah disebut sinklin.

Namun, dalam makalah tahun 2014 yang diterbitkan dalam Journal of African Earth Sciences, para peneliti mengusulkan penjelasan formasi yang sangat berbeda untuk menjelaskan fenomena Mata Sahara.

Menurut peneliti, keberadaan batuan vulkanik menunjukkan bukti adanya batuan cair yang terdorong ke permukaan, menyebabkan terbentuknya kubah, sebelum terkikis menjadi cincin yang kita lihat sekarang. Makalah ini mengusulkan teori bahwa pecahnya benua super Pangaea mungkin telah berperan dalam pembentukan gunung berapi dan pergeseran tektonik ini.

Struktur Mata Sahara terdiri dari campuran batuan sedimen dan batuan beku. Erosi di seluruh permukaan struktur mengungkapkan riolit halus dan gabro kristal kasar yang telah mengalami perubahan hidrotermal.

Jenis batuan yang ditemukan di seluruh cincin terkikis dengan kecepatan berbeda, menghasilkan pola warna berbeda di seluruh permukaan. Fragmen batuan sedimen yang besar dan bersudut tajam yang disebut megabreccia menambah ketidakteraturan pola pusaran warna-warni yang membentuk formasi ini.

Sementara itu, di bagian tengah kubah diketahui terdapat lapisan breksi kapur-dolomit selebar satu kilometer, tanggul cincin, dan batuan vulkanik alkali. Struktur geologi yang kompleks dari Mata Sahara telah membingungkan dan menggelitik ahli geologi sejak penemuannya.

Saat ini, Mata Sahara masih dianggap sebagai salah satu fitur geologis paling mengesankan di dunia. Pada tahun 2022, Mata Sahara akan menjadi salah satu dari 100 situs warisan geologi pertama yang diakui oleh International Union of Geological Sciences (IUGS).

Karena ukurannya yang besar, Mata Sahara paling baik dilihat dari ketinggian, jika memungkinkan dari luar angkasa. Jadi untuk saat ini kita hanya bisa mengandalkan citra satelit untuk melihatnya secara keseluruhan.

Tonton Video “Langit Spanyol Berubah Oranye Akibat Badai Celia”
[Gambas:Video 20detik]

(rns/asj)