liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 26, 2023
Kala 'Sang Naga' Berambisi di Harta Karun Laut China Selatan

Jakarta, CNBC Indonesia – Pekan lalu, kapal penjaga pantai China, CCG 5901, terlihat berkeliaran di sekitar Natuna, dekat Laut China Selatan (LCS). TNI Angkatan Laut kemudian mengerahkan kapal perang ke Laut Natuna Utara setelah melihat peningkatan aktivitas kapal patroli ‘monster’ China di wilayah maritim yang kaya sumber daya tersebut.

Meningkatnya aktivitas China di Laut China Selatan tidaklah mengejutkan. Negara-negara Tirai Bambu ini secara sepihak mengklaim semua, bukan bagian dari, LCS.

Klaim ini berawal dari konsep sembilan garis putus-putus yang dibuat oleh Beijing. Garis imajiner ini didasarkan pada catatan sejarah berdasarkan dokumen Cina, yang keasliannya tidak diketahui, dan jelas sudah ketinggalan zaman.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Mengutip artikel Bec Strating “Sembilan garis putus-putus China Membuktikan Lebih Aneh daripada Fiksi” di wadah pemikir Lowyinstitute, China menjelaskan konsep ini pada tahun 1993 dan segera mengklaim kepemilikan 3 juta km2 di LCS atau 90% dari seluruh lautan. Jelas hal ini melanggar aturan internasional, salah satunya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982.

Ambisi China ditanggapi serius karena dianggap mengancam kedaulatan negara tetangga seperti Taiwan, Vietnam, Filipina, Malaysia termasuk Indonesia. Mereka jelas tak puas dengan ulah China yang tak menentu dan malah mengklaim beberapa pulau di Laut China Selatan.

Dalam kasus Kepulauan Spratly, misalnya. China harus menghadapi Vietnam, Malaysia, dan Filipina. Sedangkan dengan Indonesia terjadi di Kepulauan Natuna.

Elit politik Beijing tampaknya menutup mata terhadap masalah ini. Diplomasi gagal, jadi satu-satunya pilihan terbaik adalah memperkuat angkatan bersenjata. Di situlah letak masalahnya. Dalam hal militer, Beijing jelas berada di depan negara-negara Asia Tenggara.

Di sisi lain, pengerahan militer merupakan bencana bagi China karena membuatnya semakin bermasalah dengan Paman Sam. Dalam “China, USA and the South China Sea Conflicts” (2003), AS yang memiliki basis militer di Filipina tidak terima dengan agresi China dan ingin menghentikan negara Tirai Bambu tersebut.

Jika persaingan AS-Tiongkok di LCS berlarut-larut, kemungkinan besar akan terjadi perang terbuka. Selain itu, posisi LCS juga terkait dengan Taiwan yang juga berkonflik dengan China.

Lalu, mengapa LCS begitu menarik hingga diperjuangkan oleh banyak negara?

Jawabannya adalah karena harta. LCS adalah jalur paling penting di dunia. Ada nilai ekonomi, politik dan strategis di sana.

Menurut United Nations Conference on Trade and Development, perdagangan global senilai US$ 3,37 triliun, atau 21% dari seluruh perdagangan global, melewati LCS pada tahun 2016. Bahkan sekitar tahun 2030, diperkirakan hampir 100% minyak bumi berasal dari negara-negara Arab. akan melewati SCS.

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), LCS juga kaya akan sumber daya alam. Diperkirakan ada 11 miliar barel minyak mentah dan 190 triliun meter kubik gas yang belum dieksplorasi.

Fakta ini jelas membuat siapapun tergiur. Tak heran jika Vietnam, Filipina, Malaysia, China, dan Indonesia menjadi garda terdepan dalam menjaga wilayahnya di Laut China Selatan. Akibatnya, Laut China Selatan menjadi salah satu wilayah yang disengketakan, dan berpotensi menjadi tempat baru konflik terbuka.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Kerajaan Militer China Berdiri Dekat RI, Berisi 5000 Prajurit

(mfa/sef)