liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Joss! Rupiah Menguat Lagi, Sentuh Level Terkuat Satu Bulan!

Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Kamis (1/12/2023), melanjutkan kinerja mengesankan Rabu. Menurut data Refinitiv, rupiah membuka perdagangan dengan menguat 0,19% menjadi Rp15.450/US$. Penguatan meningkat menjadi 0,32% menjadi Rp 15.430/US$ pada pukul 09.03 WIB. Level ini merupakan yang terkuat sejak bulan lalu.

Perhatian difokuskan pada rilis data inflasi AS malam ini. Data ini bisa menentukan nasib rupiah dalam beberapa hari atau minggu mendatang, karena merupakan sinyal bahwa The Fed akan terus agresif menaikkan suku bunga, atau kembali melonggarkannya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Investor menunggu rilis data inflasi AS Desember untuk mengkonfirmasi tren penurunan. Proyeksi penurunan inflasi juga akan mengurangi tekanan di pasar uang,” tulis Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro.

Hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Desember 2022 diperkirakan sebesar 6,5% year-on-year (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 7,1% (yoy).

Jika data yang keluar sesuai prediksi tentu menjadi kabar baik, peluang The Fed untuk melonggarkan laju kenaikan suku bunga semakin besar. Namun, jika inflasi hanya turun sedikit, atau stagnan atau bahkan naik, tentu akan menjadi bencana.

Tentu saja, sektor keuangan yang pertama terkena bencana, kemudian menjalar ke sektor riil yang membawa ekonomi dunia ke dalam resesi yang lebih dalam.

Sementara itu, ada kabar gembira dari dalam negeri yang membuat rupiah naik tajam Rabu lalu.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya merevisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 1 Tahun 2019 tentang Devisa Hasil Ekspor (DHE). Beberapa sektor baru masuk dalam daftar yang harus menempatkan DHE pada regulator.

Hal itu disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto sesuai instruksi Presiden Jokowi dalam rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan, Rabu (11/1/2023).

“Presiden juga memerintahkan agar ekspor yang positif selama ini harus ditindaklanjuti dengan peningkatan cadangan devisa. Untuk itu, Presiden meminta agar PP DHE 1 Tahun 2019 ini diperbaiki,” ujarnya.

Seperti diketahui, isu keringnya suplai dolar AS di negara ini membuat nilai rupiah sulit naik.

Selain itu, investor asing mulai masuk lagi ke pasar obligasi sekunder. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Risiko dan Pembiayaan (DJPPR), pada 1-10 Januari terjadi aliran modal masuk hingga Rp 12 triliun.

Obligasi Indonesia yang kembali menarik investor asing memberikan energi bagi rupiah untuk menguat.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Meregangkan Terhadap Dolar AS, Rupiah Mendekati Level Rp 15.600/USD

(pap/pap)