liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
February 3, 2023
Jelang Rilis Data Inflasi AS, Yield SBN Lanjut Melandai

Jakarta, CNBC Indonesia – Harga surat utang negara atau Surat Berharga Negara (SBN) kembali ditutup tinggi pada perdagangan Kamis (12/1/2023), jelang pengumuman data inflasi Amerika Serikat (AS) malam ini waktu setempat.

Investor masih memburu SBN hingga hari ini ditandai dengan penurunan yield seluruh tenor SBN benchmark.

Menurut data Refinitiv, SBN tenor 15 tahun mengalami penurunan yield terbesar hari ini, yaitu 8,6 basis poin (bp) menjadi 6,905%.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sementara itu, imbal hasil SBN berjangka waktu 10 tahun yang menjadi acuan SBN nasional juga turun 7,9 basis poin menjadi 6,729%.

Yield berlawanan arah dengan harga, sehingga penurunan yield menandakan harga obligasi sedang menguat, begitu pula sebaliknya. Satuan titik dasar perhitungan sama dengan 1/100 dari 1%.

Hingga saat ini, investor masih memburu pasar obligasi pemerintah Indonesia. Tak hanya investor lokal, investor asing juga tercatat memburu SBN.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, sejak 2 Januari 2023 hingga 11 Januari 2023, aliran masuk asing ke SBN mencapai Rp 13,1 triliun.

Hal ini berbanding terbalik dengan pasar saham domestik yang hingga saat ini masih mencatatkan outflow atau penjualan bersih hingga Rp 462,41 miliar di seluruh pasar.

Hari ini, investor menunggu rilis data inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) AS periode Desember 2022 yang akan dirilis Departemen Tenaga Kerja malam ini waktu Indonesia.

Trade Economic Consensus memperkirakan tingkat inflasi akan turun menjadi 6,5% secara tahunan (yoy), turun dari 7,1% pada bulan sebelumnya.

Data inflasi terbaru ini akan menjadi faktor penting dalam pertemuan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mendatang, yang dimulai pada 31 Januari.

Federal fund futures, yang digunakan investor dan pedagang sebagai barometer patokan kenaikan suku bunga potensial, menunjukkan peluang 77% bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, menurut CME Group.

Jika seperti yang diharapkan, kenaikan tersebut akan menjadi pelambatan dari kenaikan 50 basis poin bulan lalu dan menandai kenaikan suku bunga terkecil sejak Maret 2022.

Pejabat bank sentral AS sejauh ini mengindikasikan bahwa mereka belum selesai dengan kenaikan suku bunga. Ketua Fed Jerome Powell mengatakan pada hari Selasa bahwa bank sentral tetap berkomitmen untuk mengurangi inflasi dengan membatasi pertumbuhan ekonomi.

Akibatnya, imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) bertenor 10 tahun kembali turun 2,8 basis poin menjadi 3,528% pada perdagangan pagi hari ini waktu AS.

TIM PENELITIAN CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Sikap investor di SBN beragam, hasilnya juga beragam

(chd/chd)