liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Gara-gara China, TNI AL Kirim Kapal Perang ke Laut Natuna

Jakarta, CNBC Indonesia – Angkatan Laut Indonesia telah mengerahkan kapal perang ke Laut Natuna Utara setelah melihat peningkatan aktivitas kapal patroli ‘monster’ China di wilayah maritim yang kaya sumber daya.

Indonesia Ocean Justice Initiative mengungkapkan, berdasarkan data pelacakan kapal, kapal terkenal China Coast Guard atau CCG 5901 telah berlayar di Laut Natuna, khususnya di dekat ladang gas Blok Tuna dan ladang minyak dan gas Chim Sao Vietnam sejak 30 Desember.

Panglima Angkatan Laut Laksamana Muhammad Ali mengatakan dia telah mengirimkan kapal perang, pesawat patroli maritim, dan drone untuk memantau aktivitas kapal patroli China.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Kapal China itu tidak melakukan aktivitas mencurigakan,” kata Ali seperti dilansir Reuters, Sabtu (14/1/2023).

“Namun perlu kita pantau karena sudah lama berada di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia,” imbuhnya.

CCG 5901 adalah kapal patroli terbesar di dunia. Kapal ini terkenal mengalahkan kehebatan kapal penjelajah kelas Ticonderoga Angkatan Laut Amerika Serikat. CCG 5901 juga lebih besar dari kapal perusak berpeluru kendali Arleigh Burke AS.

Seorang juru bicara kedutaan China di Jakarta tidak segera tersedia untuk dimintai komentar.

Aktivitas kapal patroli China di kawasan Laut Natuna Utara sebenarnya terdeteksi meningkat setelah dicapai kesepakatan antara Vietnam dan Indonesia terkait batas ZEE mereka di kawasan tersebut.

Indonesia juga baru-baru ini menyetujui rencana pengembangan lapangan gas Tuna sebagai tempat ekspor gas ke Vietnam, dengan estimasi investasi lebih dari US$ 3 miliar.

Pada tahun 2021, kapal-kapal dari Indonesia dan China saling membayangi selama berbulan-bulan di dekat anjungan minyak submersible yang melakukan evaluasi sumur di blok Tuna. Saat itu, China mendesak Indonesia untuk menghentikan pengeboran tersebut, dengan alasan kegiatan tersebut dilakukan di wilayahnya.

Sementara itu, Indonesia bersikukuh berdasarkan ketentuan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) bahwa ujung paling selatan Laut China Selatan adalah zona ekonomi eksklusifnya, dan menamai kawasan itu Laut Natuna Utara pada 2017.

China menolak klaim ini dengan mengatakan bahwa wilayah maritim Laut China Selatan yang ditandai dengan “Nine-Dash Line” berbentuk U. Pengadilan Tetap Arbitrase di Den Haag menemukan bahwa sembilan garis putus-putus tidak memiliki dasar hukum pada tahun 2016.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

RI Sita Natuna dari Singapura Hingga Harga Minyak Jatuh

(des)