December 2, 2022
ESDM Mau Batasi Smelter Baru Nikel Berteknologi RKEF, Kenapa?

Jakarta, CNBC Indonesia – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih mengkaji rencana pembatasan pembangunan smelter nikel baru. Terutama untuk peleburan sekunder nikel yang menghasilkan feronikel (FeNi) dan Nickel Pig Iron (NPI).

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan moratorium pembangunan smelter nikel baru dengan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) yang menghasilkan produk proses nikel kelas dua berupa nickel pig iron (NPI) dan ferronickel (FeNi) masih dalam tahap pengembangan. tahap diskusi.

Menurut Arifin, pemerintah ingin aturan ini segera berjalan. Karena nilai tambah pengolahan nikel kadar tinggi menjadi baja relatif kecil dibandingkan dengan produk turunan baterai kendaraan listrik yang sebagian berasal dari bijih nikel kadar rendah.

“Ya RKEF sedang dievaluasi. Itu sedang dievaluasi, tunggu saja karena kita mau juga, untuk nilai tambah ini tidak banyak babi besi kan,” kata Arifin saat ditemui di Gedung DPR RI, Senin (21/10). /21/2018). 11/2022).

Seperti diketahui, pemerintah memiliki target membangun hingga 53 pabrik pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) seperti nikel, bauksit dan lainnya. Namun, pemerintah pesimis pabrik itu selesai pada 2023 karena hingga 2021 baru 21 pabrik yang dibangun.

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pengelolaan Mineral dan Batu Bara Irwandy Arif sebelumnya menjelaskan hingga 2021 jumlah smelter yang sudah selesai sebanyak 21 fasilitas pemurnian. Sedangkan 32 unit lainnya masih dalam tahap pembangunan.

Dari 21 smelter yang telah beroperasi, terdapat 15 smelter nikel, 2 smelter bauksit, 1 smelter besi, 2 smelter tembaga, dan 1 smelter mangan.

Pada tahun 2022 direncanakan akan dibangun 7 fasilitas pemurnian tambahan sehingga total menjadi 28 fasilitas pemurnian. Diantaranya, 3 smelter nikel, 1 smelter bauksit, 1 smelter timbal, dan 1 smelter seng.

Artinya, masih ada 25 smelter lagi yang akan dibangun tahun depan.

“Kita punya 21 smelter dan tahun ini masih ada tambahan 7 dan kita harapkan 53 di 2023, sekarang mungkin belum tercapai,” kata Irwandy dalam diskusi virtual, Jumat (18/11/2022).

Irwandy juga menjelaskan, dalam pembangunan smelter tersebut terdapat beberapa tantangan yang dihadapi saat ini, antara lain aspek perizinan (HGB, IMB, IPPKH, tailing/limbah), pembiayaan, penyediaan energi (tarif listrik, biaya pemasangan), lahan, dan masalah lain. seperti kedatangan alat dan pekerja asing, teknologi.

Padahal, jika 53 smelter tersebut selesai tepat waktu, ini bisa menjadi penopang hilirisasi dalam negeri.

“Banyak tantangan yang harus diatasi, masih banyak konstruksi yang harus diselesaikan. Kalau ini selesai akan mendukung hilirisasi. Kesulitannya satu pembiayaan, dua sumber listrik, tiga perizinan, yang kadang terlalu lama,” ujarnya. menyimpulkan.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Skenario Terburuk Menteri ESDM, Harga Minyak US$ 200/Barel

(miq/miq)