liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 27, 2023
Siap-Siap, Produsen Selis Rights Issue 2 Miliar Saham Baru

Jakarta, CNBC Indonesia – Setelah melewati jalan terjal sejak awal tahun, pasar keuangan Tanah Air pada pekan ini mampu mencatatkan kinerja yang sangat baik. Meski dihantui kekhawatiran The Fed akan kembali menaikkan suku bunga pada pertemuan berikutnya.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mampu menguat signifikan pekan ini dengan menguat 3,25% point-to-point di 6.874,931 pada penutupan perdagangan Jumat (20/1/2023).

Pekan ini IHSG ditutup nyaris eksklusif di zona hijau, kecuali pada perdagangan Rabu (18/1/2023) yang mengalami koreksi tipis sebesar 0,02% karena investor menunggu dan melihat keputusan suku bunga Bank Indonesia yang diumumkan keesokan harinya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Sementara itu, Garuda Currency juga mencatatkan kinerja yang tak kalah gemilang. Rupiah berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (20/1/2023), sehari setelah Bank Indonesia (BI) mengisyaratkan era kenaikan suku bunga di Indonesia telah usai.

Menurut data Refinitiv, pada perdagangan Jumat pekan ini rupiah ditutup di level Rp15.070/US$ atau menguat 0,46% secara point-to-point selama sepekan. Lebih baik lagi sejak hari perdagangan terakhir tahun lalu, nilai tukar rupiah menguat drastis hingga mencapai 3,18%.

Lantas, mampukah pasar keuangan mengulangi kinerja positifnya pekan depan?

Pelaku pasar harus mencermati beberapa isu utama yang membentuk sentimen kunci pasar dengan harapan pasar keuangan akan pulih dan membukukan kinerja positif pada pekan depan.

Perlu diingat bahwa pada dasarnya pasar keuangan masih dibayangi berbagai sentimen eksternal yang bersumber dari ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang memicu inflasi dan kenaikan suku bunga Fed.

Oleh karena itu, penting untuk mengetahui perkembangan data penting dalam dan luar negeri yang menandakan arah suku bunga dan perekonomian ke depan.

Dari dalam negeri, tentu pelaku pasar masih mencermati kebijakan suku bunga Bank Indonesia (BI). Seperti diketahui, Gubernur BI Perry Warjiyo dan rekan-rekan di BI, Kamis (19/1) kemarin menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Oleh karena itu, BI menaikkan suku bunga selama 6 bulan berturut-turut dengan total 225 basis poin.





Namun, pasar kembali bergejolak setelah BI memberikan kode keras jika suku bunga tidak dinaikkan lagi. Dia mengatakan, kenaikan kumulatif sejak tahun lalu sebesar 225 basis poin sudah cukup untuk menjaga inflasi tetap terkendali. Perry memperkirakan inflasi inti akan berada di bawah 4% pada semester I 2023.

Dengan kemungkinan BI tidak menaikkan suku bunga lagi, sementara bank sentral AS (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga, mungkin dua kali lipat, spread suku bunga akan menyempit, dan ada risiko pasar keuangan akan tertekan.

Tambahan, yang bisa kita yakini adalah Semua mata tentu saja tertuju pada The Fed. Saat ini, investor fokus menunggu komentar dari pejabat Fed untuk sinyal berapa suku bunga akan dinaikkan. CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon berpendapat bahwa suku bunga akan setinggi 5%.

Sentimen utama yang menggerakkan pasar minggu ini datang dari Amerika Serikat (AS). Akan ada banyak data penting yang dirilis untuk menunjukkan seberapa kuat tekanan ekonomi AS selama ini.

Pada perdagangan awal pekan setelah libur panjang Selasa (24/1/2023), S&P Global akan merilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) yang mengukur tingkat aktivitas manajer pembelian di sektor manufaktur. Angka di atas 50 mengindikasikan ekspansi sektor, angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.

Menurut Trading Economics, Global S&P telah merevisi PMI AS sedikit lebih tinggi menjadi 44,7 pada Desember 2022 dari awal 44,4. Namun sepertinya PMI terus menunjukkan kontraksi terbesar di sektor jasa dalam empat bulan dan tercepat kedua sejak Mei 2020. Nantinya, AS juga akan menyajikan data indeks manufaktur.

Selain itu, fokus utama pasar pada Kamis (26/1/2023) mungkin akan menjadi hari terpenting pekan depan bagi investor. AS akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi negaranya. Sebelumnya, Desember lalu, pertumbuhan tahunan AS direvisi menjadi 3,2%, menurut laporan produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga 2022.

Pada hari yang sama, banyak data penting dari AS akan dirilis, seperti data klaim pengangguran, data belanja konsumen riil, data penjualan rumah baru, perubahan stok gas alam EIA, dan harga inti PCE.

US Personal Consumption Expenditure atau PCE penting bagi The Fed karena sebenarnya Fed menggunakan inflasi berdasarkan Personal Consumption Expenditure (PCE) sebagai acuan untuk menetapkan kebijakan moneter. Inflasi PCE biasanya dirilis pada akhir bulan.

Pada November, inflasi PCE mencatat pertumbuhan sebesar 5,5% (yoy) pada November tahun lalu, turun dari 6,1% (yoy) pada bulan sebelumnya. Sementara itu, inflasi PCE inti yang menjadi acuan utama The Fed turun menjadi 4,7% (yoy) dari sebelumnya 5% (yoy) dan berada pada level terendah sejak Juli 2022.

Jika PCE jatuh, itu akan memberi sinyal dan memperkuat ekspektasi bahwa Fed akan memangkas suku bunga lebih cepat.

TIM PENELITIAN CNBC INDONESIA

Artikel Berikutnya

Pelemahan Rupiah terus berlanjut, hal ini berimbas pada obligasi & saham

(aduh/um)