liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 26, 2023
Covid Ternyata Serang Otak, Mata, hingga Ginjal Manusia

Jakarta, CNBC Indonesia – Covid-19 sepertinya tidak hanya menyerang saluran pernapasan manusia. Hasil penelitian terbaru menunjukkan bahwa virus Corona menyerang hampir semua organ tubuh manusia.

Hasil visum korban Covid-19 menunjukkan bukti bahwa virus menyerang seluruh bagian tubuh termasuk paru-paru, jantung, limpa, ginjal, hati, usus besar, dada, otot, saraf, saluran reproduksi, mata, dan otak.

Faktanya, sisa-sisa virus corona ditemukan di otak pasien yang meninggal 230 hari setelah mereka mulai menunjukkan gejala.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Para peneliti mengatakan temuan terbaru mereka adalah analisis paling komprehensif hingga saat ini tentang kegigihan seluler SARS-CoV-2 dalam tubuh manusia.

Studi ini melibatkan 44 otopsi. Para peneliti dengan hati-hati mendeteksi dan mengukur tingkat RNA pembawa SARS-CoV-2 di 85 lokasi dan cairan. Informasi genetik ini menunjukkan di mana virus mungkin telah bereplikasi selama masa hidup seseorang.

“Data kami menunjukkan bahwa pada beberapa pasien SARS-CoV-2 dapat menyebabkan infeksi sistemik dan bertahan di dalam tubuh selama berbulan-bulan,” pungkas penulis studi yang merupakan peneliti di US National Institutes of Health (NIH).

Otopsi pada mereka yang terinfeksi Covid-19 telah menunjukkan tanda-tanda awal penyebaran multi-organ, dengan sisa-sisa genetik virus muncul di berbagai jaringan, organ, dan cairan.

Pada Juli 2020, otopsi lebih lanjut menunjukkan bukti pembekuan darah di hampir setiap organ vital dari mereka yang tertular virus.

Dikutip dari Sciencealert, Jumat (20/1/2023), para peneliti kini mereplikasi dan memastikan hasil tersebut lebih detail dari sebelumnya.

Dari otopsi yang dilakukan dari April 2020 hingga Maret 2021, para peneliti menemukan bahwa individu yang lebih tua dan tidak divaksinasi yang meninggal karena Covid-19 menunjukkan banyak tanda replikasi SARS-CoV-2 di total 79 tempat dan cairan tubuh.

Selain itu, beberapa perubahan diamati dalam waktu dua minggu setelah gejala pertama muncul.

Meskipun paru-paru menunjukkan paling banyak peradangan dan cedera, otak dan organ lain sering tidak menunjukkan perubahan jaringan yang signifikan, meskipun viral loadnya tinggi. Para peneliti untuk studi tersebut, yang diterbitkan di Nature, tidak yakin mengapa hal ini terjadi.

Bisa jadi, karena sistem kekebalan tubuh manusia tidak pandai menargetkan lokasi lain seperti paru-paru.

Pada tahap akhir pemulihan Covid-19, para peneliti menemukan bukti bahwa paru-paru tidak terlalu terinfeksi dibandingkan tahap awal, sementara lokasi lain tidak menunjukkan perbaikan.

Bagaimana virus menyebar sejauh ini adalah misteri lain yang harus dipecahkan. Otopsi dalam penelitian ini tidak sering menunjukkan jejak virus yang dapat dideteksi dalam plasma darah, menunjukkan bahwa patogen mungkin telah menyebar dengan cara lain.

Menurut para peneliti, memahami bagaimana SARS-CoV-2 menyebar dan bertahan dalam tubuh manusia dapat mengungkapkan banyak hal tentang mengapa beberapa pasien menderita Covid-19 jangka panjang.

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Merasa Beruntung Tidak Mengidap Covid? Ini bisa menjadi alasannya

(demi)