liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 26, 2023
Bom Waktu Anjloknya Angka Kelahiran Mengancam Jepang

Jakarta

Jepang menghadapi dua masalah yang sangat kritis di negaranya, yaitu angka kelahiran yang rendah dan populasi yang menua. Perdana Menteri Jepang Fumio Kishida mengatakan kedua masalah ini perlu segera diatasi.

Padahal, situasi jadi tidak menentu akibat dua masalah tersebut. Fumio berjanji akan segera membentuk badan pemerintah baru yang didedikasikan untuk menangani masalah tersebut.

Berbicara kepada anggota parlemen selama pidato kebijakan yang menandai dimulainya sesi parlemen baru, Fumio mengatakan menurut laporan, jumlah kelahiran di negara itu turun di bawah level 800.000 tahun lalu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Jepang berada di ambang apakah kita dapat terus berfungsi sebagai masyarakat,” dia memperingatkan. Ia menambahkan, fokus pada kebijakan terkait anak dan mengurus anak merupakan masalah serius yang tidak bisa ditunda-tunda.

“Kita harus membangun ekonomi sosial yang mengutamakan anak untuk membalikkan angka kelahiran yang rendah,” kata Fumio.

Seberapa serius situasinya?

Jepang memiliki populasi sekitar 125 juta orang, dan pada tahun 2022, seperti yang disebutkan Perdana Menteri Fumio dalam pidatonya, populasi Jepang akan mencatat kurang dari 800.000 kelahiran untuk pertama kalinya. Ini sudah diprediksi akan terjadi. Namun, Jepang mengalaminya delapan tahun lebih awal dari yang diharapkan.

Selama sebelas tahun terakhir, negara ini telah memecahkan rekor tahunan untuk kelahiran terendah yang pernah ada. Tahun 2020 tercatat 840.832 kelahiran, tahun 2021 turun menjadi 811.604 kelahiran, dan tahun 2022 jumlahnya turun hingga di bawah 800 ribu.

Jepang adalah negara tertua kedua di dunia dengan populasi rata-rata 49 tahun. Sekitar 28% dari populasi berusia 65 tahun atau lebih. Negara kota kecil Monako dengan populasi yang sangat kecil yaitu 36.686 adalah yang tertua di dunia, dengan sekitar 36% warganya berusia di atas 65 tahun.

Bom waktu

Langkah apa yang diambil Jepang untuk mengatasi masalah bom kedua ini? Untuk menghadapi penurunan angka kelahiran, Jepang meluncurkan berbagai kebijakan, salah satunya dengan membentuk badan khusus Badan Anak dan Keluarga yang akan mulai bekerja pada April 2023.

Kebijakan ini dirancang untuk mendukung orang tua dan memastikan keberlanjutan ekonomi terbesar ketiga di dunia. Menurut catatan PBB, sejak awal 1990-an, pemerintah Jepang telah mengembangkan kebijakan dan program keluarga di tiga bidang, yaitu layanan pengasuhan anak, skema cuti orang tua, dan bantuan keuangan dalam bentuk tunjangan anak.

Pada Oktober 2022, pemerintah juga mengusulkan perpanjangan cuti hamil dari 14 minggu menjadi 26 minggu untuk ibu, dan dari delapan minggu menjadi 12 minggu untuk ayah.

Efek penurunan populasi

Jepang menghadapi masalah tenaga kerja yang menyusut dan populasi yang menua. Jepang tidak sendirian dalam menghadapi penurunan populasi ini. China juga melaporkan masalah serupa.

Menurut laporan AFP, hal ini dapat dikaitkan dengan berbagai faktor seperti meningkatnya biaya hidup bagi orang yang memilih untuk memiliki anak nanti atau tidak memiliki anak sama sekali. China baru-baru ini melaporkan bahwa untuk pertama kalinya dalam enam dekade, populasinya menyusut.

Dampak penurunan populasi pada suatu negara tidak bisa dianggap remeh. Negara-negara dengan proporsi lansia yang lebih tinggi menjadi kurang menarik untuk bisnis. Pemilik bisnis menghadapi kekurangan pekerja yang memenuhi syarat, dan ekonomi negara menderita tanpa masuknya bisnis asing.

[Gambas:Twitter]

CEO Twitter Elon Musk juga baru-baru ini menyuarakan keprihatinan tentang penurunan angka kelahiran di Jepang. Pada Mei 2022, miliarder itu memperingatkan bahwa negara itu mungkin “menghilang” dalam waktu dekat, dan itu akan menjadi kerugian besar bagi dunia.

Simak Video “Jepang Minta Warganya Pindah dari Tokyo, Iming-iming Rp 119 Juta”
[Gambas:Video 20detik]

(rns/rns)