liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
January 26, 2023
BI Diramal Setop Naikkan Suku Bunga! Gembira atau Waspada?

Jakarta, CNBC Indonesia – Pelaku pasar mulai mengharapkan Bank Indonesia (BI) melonggarkan kebijakan moneter agresifnya dengan mempertahankan suku bunga acuan tidak berubah bulan ini.

BI akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu dan Kamis (18-19 Januari 2023).

Konsensus pasar yang disusun CNBC Indonesia terbagi antara pihak yang memproyeksikan kenaikan suku bunga acuan dan pihak yang memprediksi bank sentral akan menahan suku bunga acuannya.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Dari 13 lembaga yang terlibat dalam penyusunan konsensus, 10 lembaga memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 menjadi 5,75%.

Sebanyak tiga lembaga/lembaga memproyeksikan BI akan menahan suku bunga di 5,50%.


Sebagai catatan, BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 200 basis poin pada periode Agustus-Desember 2022 menjadi 5,50%.

Suku bunga Fasilitas Simpanan adalah 4,75%, dan suku bunga Fasilitas Pinjaman adalah 6,25%.

BI bahkan menaikkan suku bunga secara agresif sebesar 50 basis poin selama tiga bulan pada September, Oktober, dan November 2022. Kenaikan suku bunga sebesar 200 basis poin merupakan yang paling agresif sejak 2005.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada 5,50% bulan ini sejalan dengan terkendalinya inflasi umum dan inti.

Sebagai catatan, inflasi umum tercatat sebesar 5,51% (year on year/yoy) pada tahun 2022 sedangkan inflasi inti sebesar 3,36% (yoy). Laju inflasi tahun lalu jauh di bawah perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 6-7%.

“Selain inflasi yang terkendali, kinerja dolar Amerika Serikat (AS) dibandingkan mata uang utama cenderung terkoreksi sehingga mendorong penguatan rupiah,” ujar Josua, kepada CNBC Indonesia.



NEXT PAGE >>> Penguatan Rupiah Bantu BI Kelola Kebijakan Moneter