December 1, 2022
Anwar Ibrahim Jadi PM Malaysia Saat Biaya Hidup Mencekik!

Jakarta, CNBC Indonesia – Anwar Ibrahim resmi diangkat menjadi Perdana Menteri Malaysia ke-10 meski partai yang dipimpinnya tidak mendapatkan mayoritas kursi di parlemen.

Dalam pernyataan yang dilihat CNBC Indonesia, Raja Malaysia Yang-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah telah mencapai suara bulat dengan raja-raja Malaysia. Mereka menunjuk Anwar sebagai PM ke-10.

“Yang Mulia telah memberikan izin untuk menunjuk Yang Terhormat Dato’ Seri Anwar Ibrahim, sebagai Perdana Menteri (PM) ke-10 Malaysia,” kata pernyataan itu.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Partai Anwar Ibrahim, Pakatan Harapan, memperoleh jumlah kursi terbanyak dengan 82. Disusul partai lain yakni Perikatan (73), Barisan Nasional (30), Joan Parti Sarawak (23), Joan Rakyat Sabah (enam), Warisan ( tiga), Parti Kebangsaan Malaysia dan Partai Kesejahteraan Rakyat Demokrasi masing-masing satu kursi.

Untuk menjadi mayoritas, diperlukan setidaknya 112 dari 222 kursi.

Meski belum ada koalisi resmi, Barisan Nasional telah menyatakan dukungannya terhadap Pakatan. Total gabungan keduanya adalah 112 kursi.

Namun masih belum jelas sejauh mana dukungan ini diberikan. Ini mungkin tantangan pertama Anwar dalam menjalankan pemerintahannya.

Tanpa suara mayoritas, tentunya membuat keputusan kebijakan akan lebih sulit. Apalagi di tengah ekonomi dunia yang kelam. Dalam kampanyenya, Anwar mengutamakan ekonomi dan inflasi. Masalah yang dihadapi dunia saat ini.

Ini juga menjadi perhatian utama warga negara tetangga. Hasil survei yang dilakukan Merdeka Center, seperti dikutip Reuters, menunjukkan 74% negara menaruh perhatian pada ekonomi.

Inflasi dan pertumbuhan ekonomi adalah lima perhatian utama orang Malaysia.


Inflasi di Malaysia saat ini tercatat sebesar 4,5% year-on-year (yoy) pada September, turun dari 4,7% pada bulan sebelumnya yang menyamai rekor April 2021. Level tersebut merupakan yang tertinggi dalam lebih dari 5 tahun.

Inflasi di Malaysia tentunya tidak seperti negara-negara Barat yang mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade, namun masih dalam kategori tinggi. Pasalnya, dari tahun 1960 hingga 2021, rata-rata tingkat inflasi adalah 3%, berdasarkan Data Dunia.

Selain itu, ada risiko inflasi bisa naik lagi, karena nilai tukar ringgit telah turun tahun ini. Pada awal November, ringgit mencapai sekitar MYR 4,7/US$, terlemah sejak 1998.

Nilai tukar yang melemah membuat barang impor menjadi lebih mahal, apalagi negara lain juga mengalami inflasi yang tinggi. Sehingga harga dipastikan akan meningkat, hal ini dapat memicu inflasi impor yang harus ditekan oleh kabinet baru PM Anwar.

HALAMAN BERIKUTNYA >>> Malaysia tidak kebal terhadap ekonomi dunia yang suram